Selamat Tinggal Ramadhan 1441 H


Selamat Tinggal Ramadhan 1441 H
   
Tanpa terasa dan dengan terpaksa, kita harus melepas Ramadan dengan suka atau duka. Karena tidak ada pilihan, mau tak mau ramadan akan meninggalkan kita. Begitu banyak catatan untuk kita ramadan kali ini, dengan serba-serbinya, dinamika hariannya plus corona-nya.

Namun ada beberapa lintasan pikiran yang kiranya patut menjadi renungan bersama;
1. Ibrah dan catatan amal yang penting itu pada akhirnya.

Ramadan adalah tamu agung, yang sudah singgah. Sekarang tiba saatnya ia pamit. Kalau ada diantara kita tidak menyambut tamu ini dengan semestinya apalagi istimewa, maka lepaslah dengan baik & hangat agar kekurangan di awal tidak diperparah dengan akhir yang buruk. 

Lakukan amal salih apa saja, yang penting bisa happy ending dgn Ramadhan 2020!

2. Memacu diri untuk menambah ketaatan.

Allah -Ta’ala- memerintahkan kita untuk berlomba dalam kebaikan di berbagai ayat-Nya. Selain Lailatul Qadar, Allah menyiapkan surprise alias kejutan2 (ampunan, rahmat & pembebasan dari neraka) di akhir babak, apa yang tidak ada pada malam-malam sebelumnya sebagai  pemberian kesempatan bagi yang terlewatkan darinya kebaikan. Bukankah kita menyaksikan; bagaimana para pedagang mengobral barang dagangannya di akhir pameran? Para undangan hajatan mendapat hadiah sebelum bubaran dari pemilik hajat?

Diantara kaum salaf itu ada yang membeli budak yang cantik & pintar (mahal tentunya) lalu dicukupi kebutuhannya kemudian dimerdekakan Cuma-Cuma demi takarub & meraih ridha Allah di akhir Ramadan.

Tidakkah kita melihat para pelari semakin gigih  & membusungkan dada saat mendekati garis finis? Begitu pula pacuan kuda 🏇?

Jangan ragu apalagi maju mundur untuk beramal! Terus maju....

3. Waspada & bertekad untuk tidak kembali pada maksiat dan pelanggaran atas syariah.

Jangan kita rusak amal baik & pahala yang susah payah kita kumpulkan dengan kembali menceburkan diri ke lumpur dosa. Benang yang sudah ditenun jangan diurai kembali agar umur kita tidak sia-sia hilang. 

4. Rahasia diterima atau ditolaknya amal.

Tidak ada yang dapat menjamin kalau amal kita diterima atau tidak, ini adalah rahasia Allah -Subhanah- untuk hikmah yang Dia kehendaki. Diantaranya agar kita tidak futur/patah semangat kalau ditolak amalnya ataupun besar kepala dengan apa yang sudah diperbuat bila diterima.

5. Buah ketaatan adalah ketaatan berikutnya.

Menurut beberapa salaf, diantara pertanda baik amal kita diterima adalah kita makin semangat/gigih dalam beramal salih, begitu pula sebaliknya. Naudzubillah

Ibnu Mas’ud berkata, “Siapakah diantara kita yang diterima amalnya sehingga bisa diucapkan selamat padanya? Dan siapakah diantara kita yang ditolak amalnya sehingga bisa diucapkan bela sungkawa baginya?”.

6. Beribadah terus selama hayat dikandung badan, yakni sampai ajal menjemput.

Allah -Jalla fi 'ulah- yang kita sembah di bulan Ramadan, Dia pula yang kita  sembah di bulan-bulan lainnya sepanjang tahun. Dalam firman-Nya disebutkan, 
“Dan sembahlah Rabbmu sampai kematian menjemputmu”!  QS. Al-Hijr: 99.

7. Berharap bertemu Ramadan kembali.

Selalu berdoa memohon agar kita dipertemukan dengan Ramadan tahun depan, dengan persiapan menyambutnya yang lebih baik, jadwal lebih rapi, keadaan yang kondusif tanpa corona maupun konco-konconya, kesehatan prima, tak kekurangan apa-apa.

اَللَّـهُـَّم أَصْلِحْ لِي دِينِي الّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِي، وَأَصْلِحْ لِي دُنْيَايَ الّتِي فِيهَا مَعَاشِي، وَأَصْلِحْ لِي آخِرَتِي الّتِي فِيهَا مَعَادِي، وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لِي فِي كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لِي مِنْ كُلِّ شَرٍّ.  آمين
Ya Allah, perbaikilah urusan agamaku karena itu adalah inti perkaraku. Aku mohon perbaikilah urusan duniaku karena itu tempat hidupku. Aku mohon perbaikilah urusan akhiratku karena itu tempat kembaliku. Jadikanlah hidup ini tambahan kebaikan bagiku, dan jadikanlah kematianku waktu istirahat bagiku dari segala keburukan. (HR. Muslim 2720)

Tanpa terasa dan dengan terpaksa, kita harus melepas Ramadan dengan suka atau duka. Karena tidak ada pilihan, mau tak mau ramadan akan meninggalkan kita. Begitu banyak catatan untuk kita ramadan kali ini, dengan serba-serbinya, dinamika hariannya plus corona-nya.

Namun ada beberapa lintasan pikiran yang kiranya patut menjadi renungan bersama;
1. Ibrah dan catatan amal yang penting itu pada akhirnya.

Ramadan adalah tamu agung, yang sudah singgah. Sekarang tiba saatnya ia pamit. Kalau ada diantara kita tidak menyambut tamu ini dengan semestinya apalagi istimewa, maka lepaslah dengan baik & hangat agar kekurangan di awal tidak diperparah dengan akhir yang buruk. 

Lakukan amal salih apa saja, yang penting bisa happy ending dgn Ramadhan 2020!

2. Memacu diri untuk menambah ketaatan.

Allah -Ta’ala- memerintahkan kita untuk berlomba dalam kebaikan di berbagai ayat-Nya. Selain Lailatul Qadar, Allah menyiapkan surprise alias kejutan2 (ampunan, rahmat & pembebasan dari neraka) di akhir babak, apa yang tidak ada pada malam-malam sebelumnya sebagai  pemberian kesempatan bagi yang terlewatkan darinya kebaikan. Bukankah kita menyaksikan; bagaimana para pedagang mengobral barang dagangannya di akhir pameran? Para undangan hajatan mendapat hadiah sebelum bubaran dari pemilik hajat?

Diantara kaum salaf itu ada yang membeli budak yang cantik & pintar (mahal tentunya) lalu dicukupi kebutuhannya kemudian dimerdekakan Cuma-Cuma demi takarub & meraih ridha Allah di akhir Ramadan.

Tidakkah kita melihat para pelari semakin gigih  & membusungkan dada saat mendekati garis finis? Begitu pula pacuan kuda 🏇?

Jangan ragu apalagi maju mundur untuk beramal! Terus maju....

3. Waspada & bertekad untuk tidak kembali pada maksiat dan pelanggaran atas syariah.

Jangan kita rusak amal baik & pahala yang susah payah kita kumpulkan dengan kembali menceburkan diri ke lumpur dosa. Benang yang sudah ditenun jangan diurai kembali agar umur kita tidak sia-sia hilang. 

4. Rahasia diterima atau ditolaknya amal.

Tidak ada yang dapat menjamin kalau amal kita diterima atau tidak, ini adalah rahasia Allah -Subhanah- untuk hikmah yang Dia kehendaki. Diantaranya agar kita tidak futur/patah semangat kalau ditolak amalnya ataupun besar kepala dengan apa yang sudah diperbuat bila diterima.

5. Buah ketaatan adalah ketaatan berikutnya.

Menurut beberapa salaf, diantara pertanda baik amal kita diterima adalah kita makin semangat/gigih dalam beramal salih, begitu pula sebaliknya. Naudzubillah

Ibnu Mas’ud berkata, “Siapakah diantara kita yang diterima amalnya sehingga bisa diucapkan selamat padanya? Dan siapakah diantara kita yang ditolak amalnya sehingga bisa diucapkan bela sungkawa baginya?”.

6. Beribadah terus selama hayat dikandung badan, yakni sampai ajal menjemput.

Allah -Jalla fi 'ulah- yang kita sembah di bulan Ramadan, Dia pula yang kita  sembah di bulan-bulan lainnya sepanjang tahun. Dalam firman-Nya disebutkan, 
“Dan sembahlah Rabbmu sampai kematian menjemputmu”!  QS. Al-Hijr: 99.

7. Berharap bertemu Ramadan kembali.

Selalu berdoa memohon agar kita dipertemukan dengan Ramadan tahun depan, dengan persiapan menyambutnya yang lebih baik, jadwal lebih rapi, keadaan yang kondusif tanpa corona maupun konco-konconya, kesehatan prima, tak kekurangan apa-apa.

اَللَّـهُـَّم أَصْلِحْ لِي دِينِي الّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِي، وَأَصْلِحْ لِي دُنْيَايَ الّتِي فِيهَا مَعَاشِي، وَأَصْلِحْ لِي آخِرَتِي الّتِي فِيهَا مَعَادِي، وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لِي فِي كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لِي مِنْ كُلِّ شَرٍّ.  آمين
Ya Allah, perbaikilah urusan agamaku karena itu adalah inti perkaraku. Aku mohon perbaikilah urusan duniaku karena itu tempat hidupku. Aku mohon perbaikilah urusan akhiratku karena itu tempat kembaliku. Jadikanlah hidup ini tambahan kebaikan bagiku, dan jadikanlah kematianku waktu istirahat bagiku dari segala keburukan. (HR. Muslim 2720)

Thoriq bin Abdil Aziz At-Tamimi

0 Response to "Selamat Tinggal Ramadhan 1441 H "

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel